TEHNIK PRODUKSI PENYIARAN TELEVISI

1.Definisi
Teknik Produksi dan Penyiaran Program Pertelevisian merupakan suatu Kompetensi Keahlian pada Program Studi Keahlian Teknik Broadcasting, dimana ilmu yang dipelajarinya adalah dasar teknik elektronika dan digital,
instalasi software sistim opoerasi dan aplikasi, PK3, dasar teknologi TV, teknik penulisan naskah, teknik fotografi, teknik videografi, teknik artistik,
manajemen produksi, teknik penyutradaraan, teknik tata suara, teknik editing serta produksi program TV.

2.TUJUAN 
Teknik Produksi dan Penyiaran Program Pertelevisian bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. penulis naskah
b. fotografer
c. kamerawan
d. unit manajer
e. asisten sutradara
f. penata cahaya
g. penata suara 

3.PEMBAHASAN

Penyiaran adalah suatu kegiatan penyelenggaraan siaran(radio/televisi) yang diselenggarakan oleh organisasai penyiaran,  berupa rangkaian mata acara dalam bentuk audio/ visual, yang di transmisikan sehingga dapat diterima pesawat sederhana
Siaran adalah abstrak potensial digunakan untuk mencapai tujuan idiil/material berupa siaran radio/tv yang di tunjukan kepada masyarakat yang ditunjukan kepada masyarakat yang dapat menerima siaran.
Proses penyiaran adalah proses yang berlangdung dari suatu ide menjadi sebuah pesan yang tersampaikan ke masyarakat
      Unsur  terselenggarakan penyiaran ?

·         STUDIO (STASIUN TV)
  TRANSMITTER 
         PESAWAT PENERIMA
-          Studio adalah tempat produksi informasi sekaligus menyiarkan, yang mengubah ide menjadi bentuk pesan (gambar/suara)
-          Transmitter adalah salah satu unsur dalam proses penyiaran yang berfungsi mengatur gambar/suara dari TV berupa gelombang elektromagnetik yang membawa muatan informasi untuk dipancarkan
-          Produser Eksekutif ialah orang yang bertanggungjawab atas keseluruhan perproduksi, dia adalah pimpinan para produser yang mempunyai wewenang mengelolah produksi
-          Penulis naskah adalahorang yang bertanggungjawab kepada produser dan bertugas menerjemahkan keinginan produser
RAGAM PROGRAM TELEVISI

·         Seperti telah dibicarakan sebelumnya , ada 3 jenis  program televise yang umum dikenal, yaitu
1.       Program drama
2.       Program non drama
3.       Program Berita/News
·         Ketiga jenis program tersebut sama” membutuhkan naskah sebagai  pilar untuk membuat konsep program menjadi sebuah program
·         Dalam program drama, Umumnya naskah / Skenario biasannya ditulis oleh seorang/lebih penulis scenario
Televisi
Sebuah kotak televise terdiri dari bermacam-macam sirkuit elektronik di dalamnya termaasuk diantarannya sirkuit penerima dan penangkap gelombang penyiar
Monitor
Perangkat tampilan yang tidak memiliki sinyal
Teknologi Analog  : Mengkodekan informasi gambar denga memvariasikan voltase dan frekuensi dan sinyal
Teknologi Digital  : Menggunakan modulasi digital , system kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar , suara dan data
4.KESIMPULAN
Proses penyiaran adalah proses yang berlangdung dari suatu ide menjadi sebuah pesan yang tersampaikan ke masyarakat  
5.REFERENSI

Tutorial masking di Gimp

TUTORIAL MASKING DI GIMP

A.PENGERTIAN 
GNU Image Manipulation Program atau yang lebih dikenal dengan sebutan GIMP adalah perangkat lunak untuk manipulasi grafik berbasis raster.

B.LATAR BELAKANG
  GIMP ini adalah aplikasi yang bekerja untuk memanipulasi grafik

C.MAKSUD DAN TUJUAN
  agar memahami tentang cara tehnik masking

D.JANGKA WAKTU YANG DIBUTUHKAN
    Dengan mengikuti tutorial yang ada maka waktu pengerjaan kurang lebih 5-15 menit bagi yang mengikuti ini dengan benar.
E.ALAT DAN BAHAN
  •  PC/LAPTOP
  •  MOUSE(jika diperlukan)
  •  SOFTWARE GIMP


F.TAHAP PELAKSANA
Pertama buka foto dan duplicate layer, lalu pada duplicate layer pilih Color-->Desaturate untuk menjadi hitam-putih, lalu Add Layer Mask


 Pilih White ( full opacity ) dan add
Pilih Brush Tool, atur ukuran brush sesuai dengan gambar, pastikan foreground color adalah Hitam, Kemudian mulai mewarnai layer mask hingga warna dari objek gambar tersebut mulai muncul.

Jika ada warna yang keluar dari objek gambar, ganti foreground color menjadi Putih, dan koreksi warna yang keluar dari objek itu.

 Dan hasil akhir seperti yang di bawah ini


G.KESIMPULAN
 sebenarnya belajar gimp sangat mudah,tergantung kita menyikapi dan menggunakan dengan benar.

H.REFERENSI
panduanpenggunalinux.blogspot.co.id/2012/05/tutorial-layer-masking-di-gimp.html 

Sejarah Film

Senin,16 Januari 2017

 Sejarah Film


1.1     Latar Belakang
Film merupakan sesuatu yang sudah dikenal oleh seluruh orang di seluruh belahan dunia. Hampir setiap Negara sudah dapat memproduksi film nasional atau fim dekumenter yang berkaitan dengan sejarah atau peristiwa penting bagi sejarah bangsa itu sendiri.
FIlm merupakan media campuran  dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Ia cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara, juga dari  berbagai kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik.
Di zaman sekarang ini, Film merupakan salah satu hiburan yang dapat diakses dengan mudah. Masyarakat sudah tidak asing lagi menonton film, baik di televise, bioskop, maupun melalui media-media tradisional seperti layar tancap. Masyarakat bisa setiap hari menonton film lebih dari satu judul film, ini dikarenakan kecanggihan teknologi sudah semakin maju.
Berbagai macam film sudah beredar dimasyarakat, dari mulai film documenter yang berkaitan dengan sejarah, hingga film-film animasi untuk kanak-kanak, tinggal bagaimana masyarakat bisa memilih tontonan film yang sesuai dengan usianya.

1.2     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini, diantaranya:
1.    Untuk mengetahui pengertian film
2.    Untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana sejarah dan perkembangan film dunia
3.    Untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana sejarah dan perkembangan film Indonesia
4.    Untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana sejarah dan perkembangan film Sunda


I.3     Rumusan Masalah
1.    Apa itu film?
2.    Bagaimana sejarah dan perkembangan film dunia?
3.    Bagaimana sejarah dan perkembangan film Indonesia?
4.    Bagaimana sejarah dan perkembangan film Sunda?


2.1     Pengertian Film
Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak.
Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya.
Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat dimana film itu sendiri tumbuh.
Film sendiri dapat juga berarti sebuah industri, yang mengutamakan eksistensi dan ketertarikan cerita yang dapat mengajak banyak orang terlibat. Film berbeda dengan cerita buku, atau cerita sinetron. Walaupun sama-sama mengangkat nilai esensial dari sebuah cerita, film mempunyai asas sendiri. Selain asas ekonomi bila dilihat dari kacamata industri, asas yang membedakan film dengan cerita lainnya adalah asas sinematografi. Asas sinematografi tidak dapat digabungkan dengan asas-asas lainnya karena asas ini berkaitan dengan pembuatan film. Asas sinematografi berisikan bagaimana tata letak kamera sebagai alat pengambilan gambar, bagaimana tata letak properti dalam film, tata artistik, dan berbagai pengaturan pembuatan film lainnya.

2.2     Sejarah dan Perkembangan Film Dunia
Tahun 1250,  ditemukan sebuah kamera bernama OBSCURA.
Tahun 1250-1895, disebut dengan masa pra sejarah film karena itu merupakan masa dimana terdapat penemuan" baru yg disebabkan obsesi" besar orang eropa, contohnya terciptanya sebuah alat yang bisa merekam gerak (yang hingga kini digunakan untuk membuat sebuah film).
Tahun 1895, dikenal sebagai tahun dimana awal adanya sebuah sinema, karena pada tanggal 28 Desember 1895, untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman, sebuah film cerita dipertunjukkan di depan umum. Film ini dibuat oleh Lumiere bersaudara, Lumiere Louis (1864-1948) dan Auguste (1862-1954), inventor terkenal asal Perancis dan pelopor industri perfilman. Tempat pemutaran film itu adalah di Grand Cafe di Boulevard des Capucines, Paris. Sekitar 30 orang datang dengan dibayar untuk menonton film-film pendek yang mempertunjukkan kehidupan warga Perancis.
Sesungguhnya, pada awal 1885, telah diproduksi gambar bergerak pertama namun, film karya Lumiere bersaudara yang dianggap sebagai film sinema yang pertama. Judul film karya mereka adalah “Workers Leaving the Lumiere Factory.” Pemutaran film ini di Grand Cafe menandai lahirnya industri perfilman.
Thomas A. Edison juga menyelenggarakan bioskop di New York pada 23 April 1896. Dan meskipun Max dan Emil Skladanowsky muncul lebih dulu di Berlin pada 1 November 1895, namun pertunjukan Lumiere bersaudara inilah yang diakui kalangan internasional. Kemudian film dan bioskop ini terselenggara pula di Inggris (Februari 1896), Uni Sovyet (Mei 1896), Jepang (1896-1897), Korea (1903) dan di Italia (1905).
Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata.     
Isu yang cukup menarik dibicarakan mengenai industri film adalah persaingannya dengan televisi. Untuk menyaingi televisi, film diproduksi dengan layar lebih lebar, waktu putar lebih lama dan biaya yang lebih besar untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik.


Menurut Jack Valenti, kekuatan unik yang dimiliki film, adalah:
1.        Sebagai hasil produki sekelompok orang, yang  berpengaruh terhadap hasil film;
2.        Film mempunyai aliran-aliran yang menggambarkan segmentasi dari audiensnya. Seperti: drama, komedi, horor, fiksi ilmiah, action dan sebagainya. Bagi Amerika Serikat, meski film-film yang diproduksi berlatar belakang budaya sana, namun film-film tersebut merupakan ladang ekspor yang memberikan keuntungan cukup besar.
Hal lainnya adalah soal konglomerasi dalam industri ini, dimana konglomerat besar industri film dunia mempunyai kontrol terhadap pendistribusian film ke bioskop, video, stasiun Televisi kabel dan stasiun televisi sampai luar negeri. Hal tersebut berimplikasi yang membuat pemain baru tidak bisa masuk.
Hampir sama dengan industri musik dan rekaman, pelanggaran hak atas kekayaan intelektual juga menghantui industri perfilman. Meski dalam setiap film produksi AS terhadap peringatan dari FBI, namun pembajakan film tetap saja tidak bisa diremehkan begitu saja.
Sejarah film baru dimulai dan baru sedikit orang yang bekerja di sini sehingga sejarah film memiliki keterbatasan teoritik.
Selama ini sejarah film:
·           Terlalu ditekankan pada TV dan film itu sendiri, karena sejarah ini ditulis oleh para kritikus.
·           Film merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Selama ini pendekatan sejarah film dilakukan dengan pendekatan yang sulit diadaptasi.
·           Penulisan sejarah tergantung dan hanya menyangkut kenangannya saja, bukan pendekatan sejarah yang benar.
·           Penulisan sejarah dilakukan dengan menggunakan sumber sutradara atau actor tanpa sikap kritis. Pendekatan baru dalam sejarah film menggunakan lebih banyak data, bukan hanya kesaksian actor, sutradara, dll.
·           Pendekatan sejarah film selama ini terlalu kategorik. Pengertian gerakan film dan aliran film tidak membantu banyak dalam penulisan sejarah film. Contohnya, nouvelle vague (new wave: gerakan baru sinema Perancis di tahun 1960-an, dengan Jean Luc-Godard sebagai salah satu eksponennya, pen.). Nouvelle vague itu gerakan atau hal yang semu semata?
·           Bentuknya stereotip. Penulisan sejarah film biasanya menggunakan biografi klasik (kelahiran, perkembangan, dan kejatuhan). Padahal sejarah tidak harus linear, tidak mengikuti skema Negara. Tujuan film kan dikembangkan untuk seluruh dunia.
Film bersuara keluar pertama kali dari studio Warner Brothers karena kondisi studio itu yang terdesak dan hampir merugi. Wartawan mengembangkan mitos persoalan WB ini. Padahal terlihat bahwa WB memang sengaja melakukan investasi besar-besaran untuk film bersuara ini. Faktanya sekarang WB menjadi konglomerasi media raksasa, bernama AOL-Time Warner.
Tahun 1913-1914 merupakan periode sejarah yang kompleks. Film bisu merupakan early cinema, tapi bukan film primitif. Pengertian primitif dalam film sebenarnya terpengaruh oleh terminologi seni primitif yang mengacu pada seni Afrika. Lalu istilah ini dipakai untuk menyebut film-film Melies. Early cinema digunakan untuk menyebuat sinema awal.
Periode tahun 1902-1908, gambar ditampilkan dalam bentuk lukisan (model Melies). Ini yang disebut model representasi primitive (Noel Bratch). Pengambilan gambar diambil dalam bentuk general shot. Penonton berada di luar frame. Setiap tableu bersifat otonom.
Pada tahun 1918, ada fenomena yang berdampak ganda pada film seni. Dalam salah satu film Melies, ada adegan kejar-mengejar yang menampakkan cirri film comic. Dari sinilah muncul scenario dan munculnya scenario ini didorong oleh munculnya editing film. D.W. Griffith mengembangkan adegan kejar-mengejar ini dari Pathe, sementara ia juga menggunakan gambar telepon dan surat yang silih berganti. Gambar ini beraasl dari film Goumount. Di film Griffith ini mulai terjadi peralihan ruang.
Pada tahun 1978, Federasi Arsip Film mengadakan kongres di Brighton dan mempertontonkan 500 film early cinema. School of Brighton adalah sebuah kolokium historiografi film.  Film-film ini ditemukan oleh sinematek Inggris. Ahli-ahli yang berkonsentrasi pada early cinema ini kira-kira 350-an orang. Dari temuan itu, kita mengetahui bahwa pada tahun 1908 profesi sutradara belum seterhormat sekarang. Hal ini membuktikan bahwa sejarah film harus terus-menerus ditulis.

2.3     Sejarah dan Perkembangan Film Indonesia
Perfilman Indonesia sangat menarik, sebab lika-liku yang terjadi dalam perfilman dapat memberikan pengetahuan baru yang berkaitan erat dengan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia terutama Perusahaan Umum Produksi Negara (Perum PFN). Perusahaan perfilman ini sangat menarik untuk diketahui perkembangannya sebab merupakan saksi perjuangan bangsa dan salah satu perusahaan perfilman yang tetap bertahan hingga sekarang. Walaupun perjalanan sejarahnya tidak mudah terutama seringnya pergantian nama membuat perusahaan ini juga harus selalu melakukan pengembangan dan perbaikan segala bidang.
Cikal bakal berdirinya perusahaan film milik negara ini diawali dengan pendirian perusahaan perfilman oleh Albert Ballink pada tahun1934. Perusahaan ini bernama Java Pasific Film namun pada tahun 1936 namanya berubah menjadi Algemeene Nederlands Indiesche Film (ANIF). Perusahaan ini memfokuskan diri pada pembuatan film cerita dan film dokumenter. Peristiwa pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 disertai dengan pengambilalihan seluruh kekayaan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda oleh pihak Jepang, salah satunya adalah Algemeene Nederlands Indiesche Film (ANIF). Setelah terjadinya peristiwa tersebut, Jepang kemudian mendirikan sebuah perusahaan perfilman yang diberi nama Nippon ii Eiga Sha yang berada di bawah pengawasan Sendenbu. Film yang diproduksi Nippon Eiga Sha pada umumnya bertujuan sebagai alat propaganda politik Jepang.
Perkembangan Perum PFN diawali dengan terbentuknya BFI yang dilatarbelakangi oleh adanya gerakan karyawan film yang bekerja pada Nippon Eiga Sha. Adanya peristiwa penandatanganan draft persetujuan penyerahan Nippon Eiga Sha kepada perwakilan Indonesia pada tanggal 6 Oktober 1945 semakin mempermudah gerak para karyawan BFI untuk melakukan peliputan berbagai peristiwa bersejarah. Pada tahun 1950, BFI berganti nama menjadi Perusahaan Pilem Negara (PPN) namun penyempurnaan EYD membuat namanya berubah kembali menjadi Perusahaan Film Negara (PFN). Pergantian nama perusahaan kembali terjadi dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 55 B/MENPEN/1975 pada tanggal 16 Agustus 1975.
Berdasarkan surat keputusan ini maka secara resmi PFN berubah menjadi Pusat Produksi Film Negara (PPFN). Pergantian nama kembali terjadi seiring dengan berbagai usaha yang dilakukan untuk mengembangkan perusahaan dan agar perusahaan dapat dikelola secara profesional dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dapat memberikan keuntungan bagi negara serta mampu untuk mendiri. Agar dapat mencapai hal tersebut maka PPFN merubah statusnya menjadi Perum sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1988 yang dikeluarkan pada tanggal 7 Mei 1988. Dengan demikian resmilah PPFN berganti nama menjadi Perusahaan Umum Produksi Film Negara (Perum PFN).
Perkembangan film Indonesia beberapa tahun belakangan ini cukup menggembirakan. Meskipun tema yang diangkat masih belum terlalu variatif dan kualitas yang tidak merata namun jumlah film Indonesia yang diputar di bioskop terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan di beberapa jaringan 21 Cineplex, layar yang tersedia sempat didominasi oleh film Indonesia. Di Surabaya 21, misalnya. Pada pertengahan bulan Juni 2006 kemarin, dari 5 layar yang tersedia, 3 di antaranya diisi oleh film Indonesia. Saat itu film yang sedang tayang adalah Heart, Cewek Matrepolis, dan Lentera Merah.
Secara keseluruhan, selama kurun waktu Januari hingga Juni 2006 saja jumlah film Indonesia yang sudah dan tengah ditayangkan jaringan 21 Cineplex mencapai 19 buah. Sementara, “Tahun lalu, dalam kurun waktu yang sama, ada 14 buah film Indonesia. Total untuk 2005 semuanya ada 29 judul,” kata Joen Soemarno dari PT Indo Ika Mandiri, perwakilan 21 Cineplex untuk Jawa Timur dan Bali.
Dari data itu terlihat bahwa hingga pertengahan tahun 2006 telah terjadi peningkatan 35% dibanding tahun 2005. Padahal masih ada sederet film Indonesia lainnya yang sudah bersiap untuk diputar usai Piala Dunia 2006.
Ada dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status dan peranan film ditumbuhkan.
  • Film dilahirkan sebagai tontonan umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota.
  • Film dicap 'hiburan rendahan' orang kota. namun sejarah membuktikan bahwa film mampu melakukan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film-film perlawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni.
Dalam pertumbuhannya, baik film hiburan yang mengacu pada Hollywood ataupun film-film seni kadang tumbuh berdampingan, saling memberi namun juga bersitegang. Masing-masing memiliki karakter diversifikasi pasar, festival dan pola pengembangannya sendiri.
Sementara pada proses pertumbuhan film Indonesia tidak mengalami proses kelahiran kembali, yang awalnya dicap rendahan menjadi sesuai dengan nilai-nilai seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah ke atas, juga intelektual dan budayawan.
Perfilman Indonesia pernah mengalami krisis hebat ketika Usmar Ismail menutup studionya tahun 1957. Pada tahun 1992 terjadi lagi krisis besar. Tahun 1991 jumlah produksi hanya 25 judul film (padahal rata-rata produksi film nasional sekitar 70 - 100 film per tahun). Yang menarik, krisis kedua ini tumbuh seperti yang terjadi di Eropa tahun 1980, yakni tumbuh dalam tautan munculnya industri cetak raksasa, televisi, video, dan radio. Dan itu didukung oleh kelembagaan distribusi pengawasannya yang melahirkan mata rantai penciptaan dan pasar yang beragam sekaligus saling berhubungan, namun juga masing-masing tumbuh lebih khusus. Celakanya di Indonesia dasar struktur dari keadaan tersebut belum siap. Seperti belum efektifnya jaminan hukum dan pengawasan terhadap pasar video, untuk menjadikannya pasar kedua perfilman nasional setelah bioskop.
Faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu film nasional salah satunya adalah rendahnya kwalitas teknis karyawan film. Ini disebabkan kondisi perfilman Indonesia tidak memberikan peluang bagi mereka yang berpotensi untuk berkembang.
Pertunjukan film di Indonesia sudah dikenal orang pada tahun 1990, sebab pada tahun itu iklan bioskop sudah termuat di koran-koran. Sedang pembuatan film, baru dikenal tahun 1910-an. Itu pun sebatas pada pembuatan film dokumenter, film berita atau film laporan. Pada tahun 1926, barulah dimulai pembuatan film cerita di Bandung.

Periode-periode Film Indonesia:
  • Periode Coba-coba (1926-1937)
Pembuatan film cerita yang dimulai di Bandung ketika itu, mengalami kesulitan yang amat berat. Sebab, harus berhadapan dengan film-film import yang telah lebih dulu menguasai pasar. Belum lagi proses pembuatan film asing yang dilakukan secara besa-besaran.
Sementara film kita harus merayap-rayap menjamah bioskop pinggiran sambil mencari-cari apa yang sebenarnya diinginkan oleh publik ketika itu. Maka, dicobalah bermacam-macam bentuk dan cerita. Film Nasional mengalami masa kering yang panjang dan penuh pengorbanan.
  • Film Bisu (1926-1930)
Usaha pembuatan film cerita dimulai (meski masih secara bisu) oleh Kruger dengan judul “Loe-toeng Kasaroeng” (1926), kemudian disusul oleh Carli, keduanya adalah peranakan Belanda: tinggal dan membuka usaha di Bandung.
Tahun 1928 di tanah Periangan muncul pula Wong Brother’s asal Shanghai. Permunculan mereka rupanya menarik perhatian para pengusaha Cina lainnya untuk bergerak di bidang industri perfilman. Dan pada tahun 1929 berdirilah perusahaan film cerita di Jakarta bernama TAN’S FILM.
  • Film Bicara/Bersuara (1931)
Tahun 1929, film bicara pertama diputar; itupun film produk Amerika. Dua tahun kemudian, di Indonesia dicoba pembuatan film bersuara oleh para pembuat film di tanah air. Hebatnya, semua peralatan untuk pembuatan film bersuara dibikin sendiri di Bandung. Tentu saja kualitasnya belum terlalu bagus; namun, barangkali Indonesia lah yang pertama memulai membikin film bersuara di Asia. Muncullah film “Nyai Dasima” (Jakarta 1931) film bersuara pertama. Disusul kemudian “Zuzter Theresia” (Bandung 1932).
          Dengan masuknya suara ke dalam film memberi keuntungan tersendiri bagi penonton serta produser film. Hal itu disebabkan belum adanya penerjemah kata asing dalam film dengan bantuan teks, hingga film Indonesia lebih bisa diterima penonton kita. Penonton jadi lebih tertarik pada film buatan dalam negeri, meski suaranya sedikit berisik. Walau film produk dalam negeri banyak diminati penonton, akan tetapi belum memberi keuntungan yang memadai. Kalaupun ada untung, itupun pendapatannya baru sebatas untuk menutup biaya produksi.

2.4     Sejarah dan Perkembangan Film Bernuansa Sunda
Munculnya warna lokal dalam film Indonesia, sesungguhnya sudah dimulai sejak kehadiran film cerita pertama yang dibuat di Indonesia. Pada tahun 1926, NV Java Film Company, yang berdiri di Bandung, membuat film cerita rakyat Tatar Sunda "Loetoeng Kasaroeng". Bahkan setahun kemudian, G. Krugers, pembuat "Loetoeng Kasaroeng", kembali menggarap film "Eulis Acih", dan "Karnadi Tangkap Bangkong"
Patut dicatat pula sebuah film yang menampilkan pasangan Raden Muhtar asal Cianjur dan R. Sukarsih asal Cikoneng Tasikmalaya, judulnya "Pareh" (1934). Film tersebut, dianggap film penting, dan dokumentasinya ada di Sinematek Belanda.
Cerita rakyat Lutung Kasarung paling banyak dibuat film. Setelah dibuat film pada tahun 1926, dibuat lagi pada tahun 1952, salah seorang pemeran utamanya Tina Melinda. Kemudian pada tahun 1983, Inem Film menggarap kembali kisah dari Tatar Sunda itu dengan pemeran utamanya Enny Beatrice.
Film cerita rakyat yang paling populer dibuat film dan sinetron adalah kisah tentang Si Kabayan. Tahun 1960-an, cerita Si Kabayan pernah dibuat gendingkaresmen oleh Mang Koko dan Wahyu Wibisana. Salah seorang pemeran Si Kabayan yang paling populer dalam gending karesemen adalah Tajudin Nirwan.
Ketika dibuat serial untuk televisi, yang dipelopori oleh R. Ading Affandi sebagai sutradara dan penulis naskah, tokoh Si Kabayan saat itu diperankan oleh Abah Us Us, pelawak terkenal dari grup De Bodor. Bahkan sewaktu Si Kabayan dibuat film oleh PT Diah Pitaloka Film, cerita dan skenarionya masih tetap digarap oleh Ading Affandi. Tokoh Si Kabayan diperankan oleh Kang Ibing, yang kemudian mendirikan grup lawak De Kabayan. Film tersebut disutradarai oleh Bay Isbahi. Tokoh Nyi Iteung diperankan oleh Lenny Marlina.
Pada tahun 1989, PT Kharisma Jabar Film melakukan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, menggarap film "Si Kabayan Saba Kota", yang disutradarai H. Maman Firmansyah berdasarkan cerita Min Resmana, skenarionya ditulis oleh saya sendiri. Pemeran Si Kabayan dipercayakan kepada Didi Petet, sedangkan tokoh Nyi Iteung dimainkan oleh Paramitha Rusady. Film tersebut merupakan realisasi dari SKB Tiga Menteri, yang isinya, agar setiap provinsi di Indonesia membuat film berdasarkan cerita dari daerahnya masing-masing.
Film "Si Kabayan Saba Kota" ternyata mampu mencatat rekor sebagai film daerah yang sukses dalam pemutarannya di seluruh Indonesia. Di Jakarta, tercatat sebagai film terlaris ketiga. Bahkan, film tersebut terpilih sebagai Film Komedi Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1990.
Kerjasama PT Kharisma Jabar Film dan Pemda Provinsi Jabar kemudian dilanjutkan dengan membuat film "Si Kabayan dan Gadis Kota", "Si Kabayan dan Anak Jin", "Si Kabayan Saba Metropolitan", dan "Si Kabayan Mencari Jodoh".
3.1 Kesimpulan
   Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak.
   Tahun 1895, dikenal sebagai tahun dimana awal adanya sebuah sinema, karena pada tanggal 28 Desember 1895, untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman, sebuah film cerita dipertunjukkan di depan umum. Film ini dibuat oleh Lumiere bersaudara, Lumiere Louis (1864-1948) dan Auguste (1862-1954), inventor terkenal asal Perancis dan pelopor industri perfilman. Tempat pemutaran film itu adalah di Grand Cafe di Boulevard des Capucines, Paris. Sekitar 30 orang datang dengan dibayar untuk menonton film-film pendek yang mempertunjukkan kehidupan warga Perancis.
   Thomas A. Edison juga menyelenggarakan bioskop di New York pada 23 April 1896. Dan meskipun Max dan Emil Skladanowsky muncul lebih dulu di Berlin pada 1 November 1895, namun pertunjukan Lumiere bersaudara inilah yang diakui kalangan internasional. Kemudian film dan bioskop ini terselenggara pula di Inggris (Februari 1896), Uni Sovyet (Mei 1896), Jepang (1896-1897), Korea (1903) dan di Italia (1905).
 Pertunjukan film di Indonesia sudah dikenal orang pada tahun 1990, sebab pada tahun itu iklan bioskop sudah termuat di koran-koran. Sedang pembuatan film, baru dikenal tahun 1910-an. Itu pun sebatas pada pembuatan film dokumenter, film berita atau film laporan. Pada tahun 1926, barulah dimulai pembuatan film cerita di Bandung.
Dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status dan peranan film ditumbuhkan.
  • Film dilahirkan sebagai tontonan umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota.
  • Film dicap 'hiburan rendahan' orang kota. namun sejarah membuktikan bahwa film mampu melakukan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film-film perlawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni.

Pada tahun 1926, NV Java Film Company, yang berdiri di Bandung, membuat film cerita rakyat Tatar Sunda "Loetoeng Kasaroeng". Bahkan setahun kemudian, G. Krugers, pembuat "Loetoeng Kasaroeng", kembali menggarap film "Eulis Acih", dan "Karnadi Tangkap Bangkong".
Cerita rakyat Lutung Kasarung paling banyak dibuat film. Setelah dibuat film pada tahun 1926, dibuat lagi pada tahun 1952, salah seorang pemeran utamanya Tina Melinda. Kemudian pada tahun 1983, Inem Film menggarap kembali kisah dari Tatar Sunda itu dengan pemeran utamanya Enny Beatrice

Referensi 
http://susanpinter.blogspot.co.id/2011/06/sejarah-film.html

CARA MEMPERKIRAKAN APERTURE , SHUTTER SPEED , ISO PADA OBJEK

 A. PENGERTIAN

1. BUKAAN / APERTURE / DIAFRAGMA


Aperture adalah bukaan lensa kamera dimana cahaya masuk. Bila bukaan besar, akan banyak cahaya yang masuk dibandingkan dengan bukaan kecil. Selain merupakan salah satu cara mengendalikan cahaya yang masuk, bukaan di gunakan juga untuk mengendalikan kedalaman ruang (depth of field / dof).


Dalam prakteknya, jika Anda berada di lingkungan dimana cahaya sangat terang, maka kita bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam. Jika kondisi lingkungan gelap, maka kita bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.


Bukaan juga bisa digunakan untuk mengendalikan kedalaman ruang. Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, akibatnya latar belakang subjek menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua bidang dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.


Hal yang unik dan sering membingungkan pemula adalah nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil. Contoh: f/1, f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, f/22 dan seterusnya.


Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti f/3.5-5.6 berarti makimum bukaan bervariasi antara f/3.5 sampai f/ 5.6.

2. SHUTTER SPEED

Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi kamera membuka sensor untuk menyerap cahaya. Semakin lama durasinya, semakin banyak cahaya yang masuk ke kamera dan hasil foto akan bertambah terang.


Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai to 30 detik. Variasi shutter speed ini diatur dari badan kamera bukan dari lensa.


Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:


  1. Kecepatan rana yang cepat membekukan (freeze) objek yang bergerak.
  2. Kecepatan rana yang lama menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.


Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

3. ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.


ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.


Di era kamera analog, ISO dikenal juga dengan ASA. Di jaman analog, ASA tergantung dari film yang kita pasang di dalam kamera. Namun di jaman sekarang, ISO bisa diubah sewaktu kita menghendakinya melalui kamera.


Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Anda akan bisa membuat foto Anda menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Anda.

B. LATAR BELAKANG
Untuk membuat objek lebih bermakna dan bernilai.


C. MAKSUD DAN TUJUAN
Agar membuat objek terlihat bagus dan lebih dianggap memiliki skill dalam mengambil objek
D. ALAT DAN BAHAN
  1. kamera DSRL
E. JANGKA WAKTU PELAKSANAN

Mensetting semuanya hanya membutuhkan kisaran waktu 3-5 menit.


F. PEMBAHASAN


 1.Setting iso terlebih dahulu Sesuai cahaya ruang
  
http://i2.wp.com/belfot.com/wp-content/uploads/2012/09/20110805-nd7jkft7meb2jw8tbgqqmhsxf4.jpg?resize=193%2C155















2.Setting Shutter Speed Sesuai cahaya ruang
 

 









 3.Setting Diafragma Sesuai cahaya ruang












 
4.Lalu Coba Dan Jika tidak bagus maka harus disetting sesuai temperatur suhu dan cahaya
 

HASIL YANG DIDAPATKAN


https://addinosaurus.files.wordpress.com/2010/09/image014.jpg?w=510


G. KESIMPULAN
Kesimpulan yaitu ketika mengambil objek harus dengan teliti dan seringlah mencoba walaupun itu gagal dan memahami tentang menu pada kamera


REFERENSI

FOTOGRAFI part 2

Senin,14 Januari 2017

   Assaamuaaikum.wr.wb
yakk bertemu lagi dengan blog yang sederhana  ini dan semoga tidak membosankan,kali ini saya akan memaparkan tentang FOTOGRAFI,


apa itu fotografi?

Fotografi adalah seni atau suatu proses penghasilkan gambar dan cahaya yang dipantulkan oleh objek masuk ke lensa kemudian diteruskan kebidang film,sehingga menghasilkan gambar.

Sejarah Fotografi

Th 1614, Angelo Sala menggungakan perak nitrat yang dibakar oleh sinar matahari dengan kertas dibungkus. Penemuan dengan efek sinar matahari ini dianggap kurang berguna oleh ilmuwan lain. Th 1717, Johann Heinrich Schulze, profesor german yang menggunakan botol berisi perak nitrat dan kapur secara tidak sengaja ada dekat jendela. Campuran ini membuat menjadi gelap dengan seagian berwarna putih dan membuat garis pada botol. Seorang ahli kimia, Carl Wilhelm Scheele menemukan ammonia larut dalam perak nitrat tetapi bukan partikel gelap. Penemuan ini membuat untuk menstabilkan suatu gambar perak nitrat, ini dianggap sebagai penemuan eksperimen fotografi. Tidak lama kemudian th 1800 Thomas Wedgwood menangkap gambar dengan kamera obskura. Sayang Wedgwood keburu meninggal pada uisa 34 th 1805. "Boulevard du Temple", daguerreotype dibuat olehLouis Daguerre dalam th 1838 sebagai awal dari foto pertama dengan ada orang di dalam foto. Th 1816 Nicéphore Niépce menggunakan kertas yang dibungkus perak nitrat berhasil membuat foto dengan kamera yang kecil.

Jenis Jenis Kamera 

Jenis-jenis kamera beserta ciri,kelebihan dan kekurangannya

Jenis-Jenis Kamera

  1. Compact digital
prosumer
Kamera jenis ini merupakan kamera digital paling simpel. Dengan ukurannya yang tidak telalu besar dan pas di kantong atau biasa disebut kamera saku, menjadikan kamera ini banyak dipilih untuk pengguna yang membutuhkan kamera yang hanya sekedar mendapat foto saja. Dengan fitur standar namun memiliki mobilitas tinggi. Kamera ini juga tidak mempunyai shoot mode dialer.
Biasanya untuk menekan harga kamera ini memiliki dua jenis input bateri, batre AAA atau pun bateri bawaan yang bisa di charge. Yang menggunakan bateri AAA harganya jauh lebih murah.
Cocok digunakan pada Event indoor, Event outdoor yang tidak terlalu mengandalkan zoom, dokumentasi standar, Anda yg memiliki mobilitas tinggi & tidak mau repot.
Ciri-cirinya     :
  1. Ada mode exposure manual
  2. Berukuran sensor besar
  3. Dapat memilih format foto RAW
  4. Punya hotshoe untuk dudukan flash external/aksesoris
  5. Bodi kamera biasanya lebih besar dari biasanya.
Kelebihan       :
  1. Sensor Yang Lebih Kecil
  2. Ukuran Lebih Kecil Dan Mudah Dibawa Keman-Mana
  3. Harga Terjangkau
Kekurangan   :
  1. Auto Focus Yang Lambat
  2. Kualitas gambar yang kurang bersih
  3. Kualitas rentang dinamis yang kurang baik
  1. Prosumer
kamera-compact-digitalKata “prosumer “ diambil dari PROfesional dan conSUMER. Kamera  yang berjenis “point and shoot” ini mempunyai fitur lebih lengkap dibandingkan dengan kamera saku, antara lain pengaturan exposure dan iso secara manual. Ada beberapa orang yang menggunakan kamera jenis ini untuk memulai belajar fotografi karena dirasa lebih praktis dan fungsional daripada kamera DSLR.
ciri-ciri                        :
  • Kamera prosumer terdiri dari dua jenis, yaitu Kamera prosumer berbentuk Kamera digital SLR (DSLR-like) yang juga disebut Bridge Camera
  • dengan lensa tetap yang tak dapat dilepas, sedangkan MILC walaupun lensanya dapat dilepas, tetapi tidak memiliki Cermin Reflex dan tentunya juga tidak memiliki Optical Viewfinder dan sebagai gantinya dipakai Electronical Viewfinder atau layar LCD saja.
Kelebihan      :
  • Kamera digital prosumer memiliki bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR.
  • Untuk ukuran lingkaran lensa, prosumer cenderung lebih kecil dari pada DSLR dan lebih besar dari compact.
  • Untuk fitur, kamera prosumer menyerupai DSLR. Setingan programnnya bisa diatur secara manual. Aperture/diafraghma, ISO dan Shutter Speed bisa diatur secara manual.
  • Dengan kemampuan dan tekhnologi yang ada, prosumer dianggap lebih praktis untuk fotografi sehari-hari.
Kekurangan   :
  • Sensor prosumer yang lebih kecil disbanding DSLR berakibat kualitas hasil foto tidak bisa sebaik kamera DSLR
  • Kecepatan auto focus dan jeda antar satu foto dengan foto selanjutnya juga
  • merupakan kendala bagi yang membutuhkan moment penting dan cepat.
  1. Bridge Camera
bridgejenis kamera digital prosumer atau disebut juga Bridge CDC (Compact Digital Camera). Jenis kamera ini disebut bridge karena menjembatani pengguna kamera pocket untuk mendapatkan fitur dan kualitas yang lebih baik. Kualitas jenis kamera ini berada diantara kamera pocket dan kamera profesional (DSLR).
Ciri-ciri                       :
  • kemampuan zoomnya yang saat ini sudah melampaui 50x bahkan 60x dan untuk itu diperlukan sistem stabilisasi yang mumpuni, sehingga ada Bridge Camera yang dilengkapi dengan 5-axis Image Stabilization (Pitch, Yaw, Roll, Vertical Shift and Horizontal Shift), sehingga lebih unggul dari pada Sistem Stabilisasi yang dimiliki oleh Kamera digital SLR.
  • Image Stabilization yang unggul juga berguna untuk pengambilan gambar video sambil berjalan dan tentunya juga dapat mengambil foto dengan Kecepatan yang lebih lambat.
Kelebihan      :
  • Punya lensa yang bisa zoom sangat jauh (ideal untuk foto subjek yang jauh seperti burung, atau pemandangan seperti detail gunung dll.
  • Sebagai perbandingannya, lensa kamera superzoom dapat mencapai lebih dari 500mm. Beberapa diantavranya mencapai 1000mm. Sedangkan untuk kamera DSLR kebanyakan 200-300mm dan itu pun perlu membeli lensa zoom telefoto terlebih dahulu.
  • Ukuran dan beratnya lebih ringan dan sedikit lebih kecil
  • Beberapa kamera memiliki kecepatan foto berturut-turut melebihi 10 foto per detik
  • Relatif murah dibandingkan kamera DSLR
Kekurangan :
  • Kualitas foto masih jauh dibandingkan hasil kamera DSLR karena pemakaian sensor foto yang sangat kecil. Kualitas foto yang dihasilkan lebih menyerupai kualitas kamera saku atau ponsel canggih.
  • Karena bukaan lensa biasanya makin kecil saat zooming, maka kita perlu cahaya lingkungan yang terang. Jika cahaya agak gelap, seperti sore hari atau di dalam ruangan, kualitas foto akan sangat menurun. Mengunakan tripod akan sangat membantu di dalam ruangan.
  • Tidak bisa ganti-ganti lensa seperti kamera DSLR
  • Banyak
  1. Consumer DSLR
consumer dslrDSLR bisa ganti lensa, harga relatif kompetitif 4 juta sampe 6 jutaan. Dengan Lensa Kit 18-55, kualitas gambar yang bagus menjadi pilihan anak muda sekarang.
Ciri-ciri        :
  • Bisa Ganti Lensa
  • Memiliki Jenis Body Warna Lebih dari 1
  • Harga Relatif murah 4 – 6 Juta
  • Menggunakan Lensa Kit 18-55mm
Kelebihan      :
o   Lebih Fleksibilitas
o   Gampang Upgradable
o   Kinerja Yang Lebih Baik
o   Kualitas Gambar Lebih Baik
Kekurangan :
  • harganya yang terbilang relatif mahal jika pengguna masih tergolong di dalam kelas  pemula di dunia fotografi
  • lebih besar dan lebih berat dari camdig
  • orang akan merasa sulit untuk mengubah lensa atau terus mengoperasikan banyak tombol.
  1. Microless camera / tlr
microlessHybrid atau Mirorrless ini adalah kamera mirip DSLR tanpa mirror dengan bentuk yg kompak. Biasanya memiliki kemampuan yang sama dengan DSLR dengan sensor 4/3 dan APSC memberikan kualitas gambar yang sama dan bisa ganti lensa memberikan nilai + sendiri. Bentuk kompak + kualitas bagus.
Ciri-ciri        :
  • Ukurannya yang relatif kecil,
  • Beratnya yang ringan,
  • Lensa yang dapat diganti-ganti,
  • Hasil bidikan yang dihasilkan juga tidak jauh beda dengan DSLR,5
Kelebihan      :
memiliki kemampuan yang sama dengan DSLR dengan sensor 4/3 dan APSC memberikan kualitas gambar yang sama dan bisa ganti lensa memberikan nilai + sendiri.
Kekurangan :
gambar dalam jendela bidik dibalik secara horizontal (dari kiri ke kanan) yang mengakibatkan pembingkaian foto yang sulit, terutama bagi pengguna yang belum berpengalaman atau dengan subjek yang bergerak
  1. Semi Pro DSLR
semi proFullframe atau APSH kualitas ga perlu di ragukan dengan harga 20 ~ 50 jutaan. Biasanya sih di gunakan di Studio Foto.
Yang membedakan antara Pro dan Semi Pro adalah kemampuan sensor(CCD) dalam menangkap gambar. Pada DSLR –Pro , CCD sudah mengadopsi 1/1 (terbuk
a penuh). Kemudi
an pada memori D
SLR-Pro sudah menggunakan High Speed Memory. Disamping itu fasilitas fitur-fitur pada kedua jenis ini hampir sama, bisa dioperasikan dengan berbagai pilihan program maupun manual.
Ciri-ciri           :
lensa yang dapat dibuka/diganti, sehingga fotografer dapat memilih lensa sesuai yang diinginkan.
  1. Boutique Camera
butikKamera Butik, Stylish dan Powerfull dengan rata rata menggunakan sensor fullframe ( Leica M9 ) atau APS C ( X100 ) dengan kualitas gambar yg tak perlu di ragukan. Menurut Kai W seorang Fotografer dari Hongkong, Kualitas Kamera Butik lebih bagus dari pada Fullframe DSLR seperti D3S, dan Butik APSC seperti X100 mengalahkan EOS7D dari segi Image Quality menurut DXO Mark dengan bentuk yang Compact. Dengan 69 Juta sa
pa yg mau beli ( Leica M9 ) dan X100 13 Juta dan Harga Lensa Kamera Buik juga mahal.
Ciri-ciri           :
  • rata rata menggunakan
    Sensor Fullframe ( Leica M9 ) atau APS C ( X100 ) dengan kualitas gambar yg tak perlu di ragukan.
  • Harganya cukup mahal
Kelebihan       :
  • Stylish dan Powerfull
  • Kualitas lebih bagus dari pada Fullframe DSLR
Kekurangan   :
  • Harga lensa yang mahal
  1. Medium format DSLR
medium formatKamera Medium Format merupakan kamera yang biasanya menggunakan rollfilm. Besarnya format film pada kamera ini ditentukan oleh panjang foto yang direkam diatas kamera.
Kelebihan       :
kualitas hasil foto yang bisa dicetak dengan ukuran besar, sehingga kebanyakan kamera ini dipakai untuk tujuan komersial atau reproduksi
kekurangan    :
  • harga peralatan yang relatif mahal
  • adanya keterbatasan dalam depth of field (DOF) pada lensa dengan sudut gambar  yang sama

Empat unsur dalam fotografi yang menjadi acuan agar foto kalian terlihat baik. Monggo…
1. pencahayaan

Ada banyak sumber cahaya dalam fotografi. Continous light atau cahaya terus menerus seperti matahari dan Flash light atau cahaya kilat biasanya menggunakan perangkat lain. Menafaatkan cahaya dapat membantu anda menimbul efek dari foto yang anda ambil. Perhatikan juga arah cahaya dimana benda atau objek yang kita ambil gambarnya sedang menghadap atau membelakangi cahaya itu sendiri biasa di sebut back light.
2. sudut pemotretan
                                                                            Angle atau sudut pemotretan adalah faktor lain dalam mengambil gambar. Beda sudut beda pula prespektif yang dihasilkan. Mengambil lebih luas atau zoom, lebih rendah atau lebih tinggi akan menghadirkan sensasi hasil foto yang berbeda-beda pula.
3. komposisi
                                                                     Komposisi merupakan teknik tata letak pengambilan dan menempatkan isi dalam frame tersebut. Dikenal dengan teknik THE RULE OF THIRD dimana anda membagi frame menjadi 9 kotak kecil atau 3 bagian utama. Anda bebas menempatkan mana objek utama mana pendukung gambar. Hasil dari penempatan ini juga akan menghadirkan informasi yang berbeda.
4. momen.
                                                                             Yang terakhir dan memang harus diperhatikan adalah momen. Dalam street photography, News, dan Human Insterest, momen menjadi hal utama. Tak jarang ada momen luar biasa dengan waktu yang sangat singkat dan itu akan menjadi hal yang langka namun memiliki arti yang luar biasa.

Sekian dulu postingan dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda semua.

Wassalamualaikum wr.wb

Teknik Front Light

Teknik front light dalam fotografi merupakan teknik pencahayaan (lighting) yang memanfaatkan arah cahaya yang datang dari belakang fotografer. Cahaya yang datang saling berhadapan dengan area yang menjadi fokus utama objek foto, sehingga objek akan mendapatkan pencahayaan yang penuh.

Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Kekurangan yang dimiliki dari penggunaan teknik front light ini yaitu objek utama akan terkesan datar (flat) atau tanpa dimensi. Kelebihan yang dimiliki dengan menggunakan teknik frontlight ini yaitu kita dapat memperoleh informasi warna yang dimiliki oleh objek yang kira potret.

Teknik Oval Light

Teknik oval light dalam fotografi merupakan teknik pencahayaan (lighting) yang memanfaatkan arah cahaya yang datang dari sudut 45º dari posisi fotografer berada atau sekitar 3/4 dari posisi objek yang dipotret. Karakteristik dari teknik oval light ini adalah untuk memunculkan dimensi pada objek tanpa kehilangan karakter warna yang dimilikinya.

Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Teknik ini banyak digunakan dalam studio dan dikenal dengan nama rembrant light atau lip. Biasanya digunakan reflector untuk membantu dalam memotret dengan teknik pencahayaan ini.

Teknik Side Light

Teknik side light dalam fotografi merupakan teknik pencahayaan (lighting) yang memanfaatkan arah cahaya yang datang tepat dari samping objek, sehingga posisi jatuhnya bayangan berada pada posisi lainnya.

Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Karakteristik dari teknik side light ini yaitu untuk memunculkan tekstur dari objek yang dipotret. Teknik side light ini juga banyak digunakan untuk foto yang diambil di dalam studio.

Teknik Rim Light

Teknik rim light dalam fotografi merupakan teknik pencahayaan (lighting) yang memanfaatkan arah cahaya yang datang dari belakang objek dengan sudut 1/4 objek, sehingga bagian depan objek akan tampak gelap.
Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Karakteristik dari penggunaan teknik rim light ini adalah untuk menampilkan bentuk garis atau kontur yang jelas dan kilauan bagian tepi belakang objek yang diportret.

Teknik Back Light

Teknik rim light dalam fotografi merupakan teknik pencahayaan (lighting) yang memanfaatkan arah cahaya yang datang tepat dari belakang objek yang dipotret. Fotografer berhadapan langsung dengan arah datangnya cahaya (objek membelakangi sumber cahaya).

Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Teknik back light ini sering digunakan untuk memotret foto siluet (seperti foto petani yang saya potret di atas). Karena tujuan dari penggunakan teknik back light adalah untuk memunculkan bentuk objek secara kesuluruhan yang utuh.

Teknik Top Light

Teknik top light dalam fotografi merupakan teknik pencahayaan (lighting) yang memanfaatkan arah cahaya yang datang dari bagian atas objek yang dipotret, sehingga memunculkan kilauan rambut (hair light), terlebih jika sumber cahaya berada agak belakang dari objek.

Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Teknik top light ini digunakan untuk membuat foto yang bagian atas objeknya memiliki kilauan sehingga menimbulkan kesan yang sangat menarik. Baiasanya digunakan untuk memotret foto butterfly light.

Teknik Ray of Light

Teknik ray of light merupakan teknik yang memanfaatkan karakteristik cahaya, yang muncul karena terobosan melalui awan, debu dan benda lainnya. Untuk dapat melihat pencahayaan ini, kondisi lingkungan atau tempat jatuhnya sinar harus memiliki background yang gelap.

Teknik Pencahayaan (Lighting) Dalam Fotografi

Ray of light mudah ditemukan pada waktu pagi hari berkabut atau berasap. Saya sendiri senang memotret dengan teknik ray of light ini, untuk dapat menemukannya dengan mudah yaitu ketika matahari hendak terbenam di mana kondisi cuaca yang agak mendung.




Sekian dulu postingan dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda semua.

Wassalamualaikum wr.wb